Tuesday, November 25, 2008

TAKBIR! TAKBIR! MAKA DISAMBUT ALLAH HUAKBAR

Penulis sentiasa mengikuti ceramah-ceramah yang dianjurkan oleh parti PAS. Sengaja penulis mengikuti ceramah tersebut kerana seronok mendengar celoteh-celoteh penceramahnya. Belum pun penceramah memulakan kata-katanya, sudah kedengaran laungan 'Takbir! dan diikuti dengan Allah HuAkbar dari sekelian yang hadir. Mungkin ini adalah proses dan prosedur biasa dalam setiap ceramah PAS. Pun begitu penulis tetap menerima keadaan itu, kerana tajuk ceramah ada sangkut paut dengan hal agama islam, walau kadangkala diikuti dengan kata-kata caca merba si penceramah.
Semasa Majlis Peguam mengadakan Forum Agama Islam pun, ada kalangan orang melayu dari kalangan parti politik yang melaungkan Takbir. Memanglah ianya menguatkan semangat apabila mendengarnya dan lagipun forum itu cuba mempersenda islam. Maka penulis merasakan ianya logik untuk diterima!. Apabila DS Anwar Ibrahim masuk dan keluar dari Mhkamah semasa kes nya dibicarakan, terdengar juga laungan Takbir ini. Entahlah, Takbir itu untuk apa dan siapa yang melaungkannya. Sama ada yang melaungkannya tidak faham atau sengaja tidak faham tujuan Takbir itu, walahualam.
Dan apabila Raja Petra di bebaskan dari ISA oleh Mahkamah, ada juga yang melaungkan Takbir. yang ini penulis betul-betul tidak faham! Kerana waktu itu orang bukan Melayu dari kalangan HINDRAF, lebih ramai dari orang yang boleh menyebut Takbir!. Dan yang hebatnya, semasa Lim Guan Eng, Ketua Menteri Pulau Pinang hendak berucap semasa Pilihanraya Kecil Permatang Pauh, ada juga kutu-kutu yang menyelangselikan dengan laungan Takbir! Allah HuAkbar. Yang ini dah sah, penulis merasakan orang yang melaungkannya benar-benar JUMUD dalam hal agama islam. Oleh sebab itulah kadang kala kita tidak sedar bahawa yang mempermain-mainkan kesucian agama islam ini adalah Pemimpin itu sendiri, tatkala mereka sudah hilang kawalan keatas pengikutnya. Laungkan lah Takbir itu di DARJAT yang TERTINGGINYA dan bukan hanya sekadar untuk menaikkan semangat kepartian.
Layakkah 'Allahu Akbar' diteriakkan sambil marah?

Judul di atas muncul di benak saya begitu saja setelah sambungan telepon itu terputus, padahal kami sedang seru membicarakan tentang prosesi penguburan Imam Samudra, cs yang sepanjang Minggu ditayang semua TV.
Saya terdiam beberapa saat karena lewat telepon tadi sahabat saya sempat bertanya "Apakah Allahu Akbar selalu harus diteriakkan dalam keadaan marah dan dendam?". Saya shock mendengar pertanyaan ini.
Mengapa tidak? Selama ini, selama berpuluh tahun, saya terus diajarkan bahwa Islam berasal dari kata Salam yang berarti damai, bahwa Islam merupakan rahmatan lil 'alamin yang berarti rahmat bagi semesta (bukan hanya bagi muslim), bahwa Islam diturunkan di gurun pasir yang tandus dengan masyarakat yang keras wataknya melalui seorang laki-laki yang sejak kecil dikenal sebagai orang yang berwatak lembut dan sangat welas asih pada semua orang, bahwa dari 99 nama Tuhan yang indah terdapat nama Latief yang berarti "Sang Maha Lembut", bahwa muslim yang baik harus bermanfaat bagi seluruh penghuni bumi, dan bahwa-bahwa yang lain.
Sepanjang hidup saya diajarkan untuk mengucapkan Allahu Akbar tiap kali mengawali setiap gerakan dalam shalat atau ketika menyaksikan keindahan alam yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Dalam hidup dewasa saya berulang kali mengucapkan Allahu Akbar tiap kali berhasil melewati kesulitan yang secara kasat mata tak mungkin bisa saya lakukan tanpa campur tanganNya.
Tapi mengucapkan Allahu Akbar dengan kemarahan apalagi dendam, tak pernah diajarkan siapapun dalam hidup saya. Saya yakin, para guru dan kyai saya itu percaya bahwa mengajarkan Islam yang damai kepada saya dan semua muridnya, akan membuat Islam disegani, bukan ditakuti. Saya juga yakin, mereka tak ingin saya dan semua muridnya mengatasnamakan Allahu Akbar untuk kepentingan yang selain menuju Tuhan. Apalagi hanya untuk mengobarkan amarah. Karena mereka, para guru dan kyai itu, pasti tahu bahwa "Sesungguhnya hawa nafsu itu hanya akan mengajakmu pada keburukan".
Saya bukan orang yang mengerti Islam secara mendalam sebagaimana para ulama dan saya juga belum menjadi muslim yang baik meski saya terus berusaha melangkah kesana. Tapi pertanyaan sahabat saya itu benar-benar membuat saya harus terdiam dan membayangkan perasaan apakah kiranya yang mendera hati saudara saya sebangsa yang kebetulan bukan muslim tiap kali mendengar Allahu Akbar diteriakkan dalam nada penuh amarah. Apakah kita sudah sebegitu bangganya menjadi mayoritas hingga tak peduli lagi bahwa bangsa ini tidak hanya terdiri dari orang Islam? Bisakah kita bayangkan bagaimana rasanya jika kita yang menjadi minoritas di negeri ini dan menyaksikan umat mayoritas begitu arogan meneriakkan Tuhannya dengan sepenuh marah dan dendam?
Saya kira, selayaknya kita terus tumbuhkan ingatan bahwa kita hidup dan mungkin akan mati di negeri yang terdiri dari beragam iman ini. Selayaknya kita selalu berusaha menyediakan sebuah ruang bernama empati di hati kita agar bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain atas perilaku kita. Jika kita sebagai mayoritas hanya bisa mendatangkan ketakutan bagi saudara kita yang berbeda iman, maka sesungguhnya kita harus belajar lagi bagaimana menjadi muslim yang baik. Muslim yang telah dicontohkan oleh Muhammad ketika beliau berkuasa dan menjadi mayoritas.
Semoga Tuhan yang benar-benar Maha Besar tak marah karena kita berani bermain-main dengan namaNya.
Wallahu a'lam.


Rahmah Hasjim,
Jakarta, November 2008

No comments: